Karel Frederik Holle: Ahli Bahasa Sunda Era Kolonial

0
62

Karel Frederik Holle, dilahirkan di Amsterdam, 1829. Dia tutup usia pada tahun 1896, adalah seorang Belanda pemilik perkebunan di Garut, yang juga diangkat menjadi penasehat pemerintah Hindia Belanda. Holle sangat berminat terhadap bahasa dan kesusastraan pribumi, khususnya bahasa Sunda, karena ia pernah bertugas di daerah Priangan Timur. Sahabat sekaligus murid Holle adalah Muhamad Musa, seorang pejabat pribumi di Limbangan, Garut, yang banyak menghasilkan karya sastra dalam bahasa Sunda. Selain sebagai pejabat kolonial dan peneliti budaya, Holle juga terkenal sebagai pekebun teh.

Pada sekitaran abad ke-19, di Hindia Belanda, Karel dianggap sebagai ahli kebahasaan, dalam bidang linguistik, karena Karel memiliki pengetahuan yang cukup luas mengenai bahasa Melayu, Sunda, dan Jawa. Disamping itu, ia pun dikenal sebagai salah seorang yang berjasa memajukan kebudayaan Sunda Sejak diangkat jadi juru tulis pemerintah pada 1846, Karel Holle tertarik untuk belajar bahasa Sunda, dan banyak meneliti segala yang berhubungan dengan  budaya Sunda. Termasuk mengumpulkan naskah-naskah Sunda serta berusaha membaca dan meneliti prasasti-prasasti Sunda. Usaha Holle untuk mengumpulkan naskah-naskah Sunda memang luar biasa. Menurut ‘Naskah Sunda: Inventarisasi dan Pencatatan, yang ditulis pada tahun 1988, Holle berhasil mengumpulkan 171 naskah Sunda dari keseluruhan yang berjumlah 404, yang hingga saat ini disimpan di Museum Nasional Jakarta. Atas jasa K.F. Holle-lah sehingga masyarakat Pasundan, pada khususnya, dan bangsa Indoneisa pada umumnya,  mengetahui keberadaan naskah Sunda kuna kepada publik.

Atas penemuannya tersebu, Karel menuliskannya dalam dalam sebuah artikel bahasa belanda: “Vlugtig Berigt omtrent Eenige Lontar-Handschriften Afkomstig uit de Soenda-landen, door Radhen Saleh aan het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen ten geschenke gegeven met toepassing of de inscriptie van Kawali”. Dalam pernyataan dari artikel yang ditulis dalam bahasa Belanda tersbut, dapat dijabarkan, bahwa Holle mengemukakan adanya tiga naskah Sunda pada koleksi BGKW itu, yaitu naskah Kropak 632 yang berisi Amanat Galunggung. Kedua, Koropak 630 berjudul Sanghiyang Siksakandang Karesian. Sedangkan yang ketiga, Kropak 631 berjudul Candrakirana.

Holle juga tertarik untuk metranskrip prasasti-prasati yang ada di Tatar Sunda Holle juga tertarik untuk metranskrip prasasti-prasati yang ada di Tatar Sunda., selain tertarik pada naskah-naskah Sunda kuna, “De Batoe Toelis te Buitenzorg”, yang ditulis pada tahun 1869, Holle beranggapan bahwa Sri Baduga, adalah orang yang telah mendirikan kerajaan Pakuan. Pendapat ini diterima oleh para penafsir prasasti. Penafsiran tersebut, bahkan bertahan hingga zaman sastrawan Amir Sutaarga.