Kini Petronas Mendunia

0
73

“Kami dulu belajar dengan Pertamina,” kalimat ini kerap keluar dari pimpinan Petronas saat para pemimpin redaksi bersama SKK Migas berkunjung ke fasilitas produksi Petronas Petrochemical dan Terengganu Gas Terminal (TGasT) di Terengganu, Malaysia. Kalimat yang sama juga terungkap dari beberapa staf Petronas di pusat kontrol produksi Petronas di Kualalumpur. Kini Petronas menjelma sebagai salah satu perusahaan raksasa minyak dan gas di dunia.

Kini Petronas menjelma sebagai salah satu perusahaan raksasa minyak dan gas di dunia.

Mafhum kalau Petronas kini masuk dalam jajaran 25 perusahaan minyak terbesar di dunia yang dirilis Forbes, dengan level produksi 1,2 juta barel per hari (BPH). Lebih besar dari produksi minyak Indonesia pada tahun 2017 sebesar 800 ribu BPH.

Dan kini Petronas mempunyai fasilitas terintegrasi dan canggih yang dapat memproduksi bahan baku industri petrokimia berbasis gas di Kerteh, Trengganu Malaysia. Inilah yang membuat SKK Migas mengajak beberapa media dan beberapa Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) ke fasilitas ini.

Wakil Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Migas, Sukandar dalam kunjungannya menyatakan, Indonesia ingin mempelajari lebih dekat fasilitas terintegrasi ini. “Keinginan Pak Amien (Kepala SKK Migas, Amien Sunaryadi) supaya Indonesia juga bisa memiliki pabrik petrokimia,” kata Sukandar di sela-sela kunjungan.

Sukandar mengatakan, Pertamina bisa membangun fasilitas yang sama. “Dan diharapkan, bisa bekerjasama dengan Petronas lewat joint venture,” ujar Sukandar.

Pengolahan petrokimia dan gas di Kerteh menjelma menjadi pusat pengolahan yang terintegrasi tidaklah seketika. Fasilitas ini dimulai sejak tahun 1983 dan terus berkembang sampai pada tahun 2016 kemudian menjadi fasilitas yang terlengkap. Kerteh mengolah minyak bumi sebanyak 49 ribu barel per hari dari minyak jenis light sweet yang berasal dari 2 rig di lepas pantai Malaysia di wilayah Trengganu.

Dua rig mengirimkan minyak mentah ke fasilitas ini, untuk diolah menjadi BBM dengan beragam jenis oktan serta kimia dasar yang lalu digunakan untuk produk rumah tangga, elektronik dan otomotif serta barang kebutuhan sehari-hari.

“Untuk BBM kebutuhan dalam negeri semua diambil dari sini. Jadi kami tak impor dari negara manapun,” ujar Fadhil Afiq, salah satu Operation Enginer.

Fadhil pun membeberkan perihal yang sama bahwa Petronas belajar banyak dari Pertamina. Selain itu, teknologi untuk pengolahan fasilitas ini juga mengadopsi dari Jepang dan Korea.

Bukan hal yang mustahil, sejajar atau bahkan lebih dari Petronas jika Pertamina nanti bisa menjadi perusahaan minyak besar dunia.