PBB: Korban Budak Seks ISIS Seperti Mayat Hidup

0
216

Utusan PBB untuk penanganan kekerasan seksual dalam konflik, Pramila Patten, dibuat miris melihat para perempuan korban perbudakan seks ISIS yang dia temui di Irak. Menurutnya, para korban selamat kini seperti “mayat hidup”.

PBB: Korban Budak Seks ISIS Seperti Mayat Hidup

Patten mengaku baru saja pulang dari kunjungannya di Irak. Selama berkunjung, dia mendapati para perempuan korban pemerkosaan dan perbudakan seks kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) justru merasakan stigma ganda.

Stigma ganda itu adalah menjadi korban nafsu kelompok ISIS sekaligus dicurigai berafiliasi dengan kelompok radikal tersebut. Para perempuan itu dikurung di sebuah kamp dengan stigma negatif yang disematkan kepada mereka.

”Beberapa juga menyatakan rasa takut ditahan,” kata Patten, dalam konferensi pers hari Jumat.

”Jadi mereka sangat dibatasi, termasuk oleh orang tua mereka. Mereka tidak keluar dari kamp mereka dan tidak mempunyai kesempatan untuk memanfaatkan dukungan psiko-sosial yang ada di dalam kamp,” lanjut Patten, seperti dikutip AP, Minggu (11/3/2018).

Patten, yang mengunjungi Irak dari 26 Februari sampai 5 Maret 2018. Menurutnya, banyak perempuan yang mengungsi mengekspresikan keprihatinan serius atas keselamatan mereka jika mereka kembali ke rumah dan berbagi rasa takut terhadap pembalasan.

Utusan PBB itu sudah bertemu dengan semua pemimpin agama di Irak.”Mereka menunjukkan banyak empati terhadap wanita yang kembali,” katanya.

Patten diberitahu bahwa wanita Turkmen akan ditolak oleh komunitas mereka jika kembali. Sedangkan korban dari komunitas wanita Yazidi—yang secara historis mengalami penganiayaan—menyatakan keinginan untuk meninggalkan Irak.

Pada bulan Juni 2014 kelompok ISIS menyerang komunitas Yazidi Irak di Mosul. Serangan itu berlanjut dengan penculikan para perempuan Yazidi.

Wilayah Mosul sudah dibebaskan pada bulan Juli lalu. Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi mengumumkan kemenangan pasukannya atas ISIS.

Patten menambahkan, akibat konflik dan pendudukan ISIS tidak hanya dirasakan para perempuan, tapi juga anak-anak yang mereka lahirkan.

Menurut Patten, pemerintah provinsi di Mosul sudah mengatakan kepada wanita-wanita yang diperkosa ISIS ada yang meninggalkan anak-anak yang dilahirkan. Untuk itu, kata Patten, pihak berwenang harus mendirikan panti asuhan untuk “ribuan anak-anak”.