Kenaikan Harga Cabai Hingga Pertalite Dorong Inflasi Maret 2018

0
78

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Maret sebesar 0,2 persen dengan Indeks Harga Konsumen 132,58 poin. Dengan demikian, inflasi tahun kalender Januari-Maret mencapai 0,99 persen dengan inflasi tahun ke tahun sebesar 3,4 persen.

Kepala BPS, Suhariyanto, mengatakan, untuk inflasi inti pada Maret 2018 tercatat sebesar 0,19 persen. Inflasi inti tahun kalender 2018 sebesar 0,76 persen dan tingkat inflasi komponen inti secara tahun ke tahun 2,67 persen.

“Dengan memperhatikan target yang dipasang pemerintah di APBN-P sebesar 3,5 persen, maka angka inflasi Maret 2018 terbilang terkendali,” kata Suhariyanto di kantornya, Jakarta, Senin 2 April 2018.

Suhariyanto memaparkan, dari pemantauan di 82 kota Indeks Harga Konsumen (IHK), tercatat 57 kota terjadi inflasi, sedangkan 25 kota lainnya mengalami deflasi.
Kenaikan Harga Cabai Hingga Pertalite Dorong Inflasi Maret 2018

Untuk inflasi tertinggi terjadi di kota Jayapura sebesar 2,10 persen. Sementara itu, inflasi terendah terjadi di Sumenep 0,01 persen. Deflasi tertinggi terjadi di Tual sebesar 2,30 persen dan terendah terjadi di Bulukumba 0,01 persen.

“Kalau dilihat secara tahun ke tahun, perkembangannya menggembirakan, karena pada Maret 2018 sebesar 3,40 persen, atau lebih kecil dibandingkan Maret 2017 sebesar 3,61 persen,” tutur Suhariyanto.

Suhariyanto juga menjabarkan, inflasi Maret 2018 paling besar disumbang oleh bahan makanan yakni terjadi inflasi sebesar 0,14 persen. Disusul oleh transportasi, komunikasi dan jasa keuangan dengan inflasi 0,28 persen. Keduanya masuk dalam indeks kelompok pengeluaran dengan andil sebesar 0,05 persen.

Namun demikian, kata Suhariyanto, untuk kelompok pengeluaran bahan makanan, yang pertama memberikan sumbangan terbesar terhadap inflasi adalah cabai merah terutama harga bumbu-bumbuan yang andilnya 0,02 persen, bawang merah dan bawang putih 0,04 persen, serta beberapa sayuran.

“Kembali karena faktor cuaca bahan-bahan ini mengalami kenaikan harga,” ungkap Suhariyanto.

Sementara itu, lanjut dia, untuk kelompok pengeluaran transportasi, komunikasi dan jasa keuangan, andil yang paling besar adalah adanya kenaikan bahan bakar minyak, seperti pertalite dan pertamax.

“Jadi andil bensin ini lumayan besar dengan bobotnya 3,39 persen. Dengan kenaikan harga pertamax dan pertalite sehingga memberi andil 0,04 persen,” ujar Suhariyanto.