Timses Prabowo: Perlunya Merevitalisasi Nasionalisme Kita Yang Sudah Luluh Karena Kapitalisme 

0
25
Timses Prabowo: Perlunya Merevitalisasi Nasionalisme Kita Yang Sudah Luluh Karena Kapitalisme 

Seiring berkembangnya zaman, rasa nasionalisme kian memudar. Hal ini dibuktikan dari berbagai sikap dalam memaknai berbagai hal penting bagi Negara Indonesia.

Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Djoko Santoso mengajak bangsa dan negara Indonesia untuk merevitalisasi nasionalisme. Dikarenakan, saat ini rasa nasionalisme bangsa sudah luntur.

“Kita perlu merevitalisasi nasionalisme. Nasionalisme kita sudah luluh. Kalau dihadapkan kapitalisme kita kalah, makanya kita perlu merevitalisasi nasional,” ajak Djoko saat ngopi Bareng Djoksan di Kopi Bos, Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (27/12/2018).

Luluhnya rasa nasionalisme tersebut, menurutnya, disebabkan mental kapitalisme yang bisa mengendalikan semua hal dengan uang. Dicontohkan Djoko, calon kepala daerah yang harus merogoh kocek sebesar Rp 20 miliar. Lalu, tidak lama setelah menjabat malah tertangkap lantaran korupsi dan dipenjara.

Djoko Santoso saat ngopi Bareng Djoksan di Kopi Bos, Tebet, Jakarta Selatan
Djoko Santoso saat ngopi Bareng Djoksan di Kopi Bos, Tebet, Jakarta Selatan

“Kenapa kita bisa luluh? karena kita dikendalikan kapitalisme, kapitalisme itu pelurunya duit, semuanya diukur dengan duit,” jelasnya.

Djoko menilai, kondisi seperti ini layaknya jaman Belanda yaitu VOC di mana bangsa pernah dijajah. “Proses VOCnisasi maka kita harus melawan menyelamatkan negara ini agar bangsa ini tidak menderita,” tutur purnawirawan Jenderal itu.

Selain itu, Djoko menekankan, jika Prabowo Subianto terpilih menjadi Presiden, akan melindungi semua golongan. Menurutnya, Prabowo tidak akan mengkriminalisasi etnis Tionghoa.

“Pertama yang mencalonkan Ahok itu siapa? Prabowo ya yang calonkan. lah itu. Dan kita ini orang yang dididik di akademi militer itu berdiri diatas semua golongan,” ujar Djoko.

Kemudian Djoko memberi contoh saat dirinya menjabat Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Bultangkis Seluruh Indonesia (PBSI). Dia mengatakan, banyak atlet keturunan Tionghoa yang berjasa dan punya rasa nasionalisme sangat tinggi. Untuk itu, anggapan kriminalisasi Tionghoa hanya tergantung pandangan orang.

Susi Susanti dan suami, atlet bulutangkis keturunan Tionghoa
Susi Susanti dan suami, atlet bulutangkis keturunan Tionghoa

“Jadi jangan khawatirlah. Itu Prabowo kawan Cina banyak juga. Kita sama-sama aktif di olahraga. Banyak keturunan Tionghoa berprestasi di olahraga dan memang nama Indonesia naik karena atlet dari keturunan Tionghoa, terutama di bultang,” ungkapnya.

Menurut Djoko, tudingan Prabowo keras terhadap etnis Tionghoa hanya dibuat-buat supaya Tionghoa tidak memilih Prabowo. Lantas, dia meminta etnis Tionghoa tidak perlu khawatir. Mantan Panglima TNI itu menilai, jelang Pilpres sudah biasa jika ada isu-isu liar yang selalu digoreng.

“Itu menjadi isu, menjadi ini, karena waktu pilpres itu ada yang isuin prabowo. ‘hati-hatiloh, kalau prabowo naik nanti dibunuhin’. ya itu enggak mungkin lah. Banyak atlet silat juga banyak juga. Seperti contoh Pak Jokowi disebut PKI, itu ya enggak mungkin lah. Orang Pak Jokowi lahir tahun 1961,” pungkas Djoko Santoso.

Karena itu, Timses Prabowo mengajak perlunya merevitalisasi nasionalisme kita yang sudah luluh karena kapitalisme.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here