Catatan Akhir Tahun Fahri Hamzah Tentang Prabowo Subianto

0
26

Dalam catatan akhir tahun tentang Prabowo, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Fahri Hamzah menyebut para penyerang calon Presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto dalam Pilpres 2019 ini frustasi berat. Menurutnya, sebagai timses pasangan Prabowo-Hatta Rajasa dalam Pilpres 2014 lalu, ia menilai serangan kepada Prabowo pada Pilpres 2019 ini belum ada yang telak.

“Sudah mau masuk 2019, saya mengamati sebagai Tim Sukses Prabowo-Hatta di Pilpres 2014, serangan kubu kepada Prabowo belum ada yang telak. Semua masih pakai peluru lama,” ujar Fahri dalam catatan akhir tahun tentang Prabowo, Sabtu, 29 Desember 2018.

Fahri pun menduga, karena Prabowo memang sulit dicari kelemahannya sehingga serangan kepada Prabowo belum ada yang telak. Bahkan, ia menuturkan, para penyerangan menggunakan peluru dan senjata yang sama dalam menyerang Prabowo.

“Orang-orang yang menembak Prabowo dari samping ini gak kunjung nambah. Dia-dia lagi. Serangan semuanya seputar gaya dan cara. Kesimpulan; mereka (penyerang) melihat Prabowo tidak bisa diatur (baca: dijadikan boneka),” tuturnya.

Fahri Hamzah, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)
Fahri Hamzah, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)

Dikatakan Fahri, susah bertemu karakter orang seperti Prabowo yang suka tos-tosan dan berpikir secara rasional serta cerdas. Bahkan, ia menyebut Prabowo seperti Presiden ketiga Indonesia, Habibie.

“Orang rasional yang biasanya tidak punya masalah dengan kelompok politik Islam,” ujarnya.

Lebih lanjut, kata Fahri, para kelompok penyerang ini ada diujung zaman orde baru. Pada saat itu, para penyerang ini meminta Habibie tidak maju kembali menjadi Presiden Indonesia. “Padahal, Habibie tidak mempunyai salah apapun,” kata Fahri.

Fahri melanjutkan, tanpa Habibie, transisi Indonesia dari zaman orde baru ke zaman reformasi tidak seperti saat ini. Dalam waktu yang sangat pendek yaitu satu tahun tujuh bulan, dan di tengah desakan mundur oleh kelompok penyerang ini, Habibie melakukan penyelamatan ekonomi dan penyelenggaraan pemilu yang paling jujur dan adil yang diakui dunia.

“Tapi, beliau memang seperti aneh; terlalu rasional, blak-blakan, dan seolah emosional. Gaya dan cara inilah yang dikembangkan seolah beliau orang bahaya. Habibie tidak saja digambarkan sebagai penerus Soeharto tetapi juga dianggap akan memperpanjang umur Orde Baru,” katanya.

Hal ini sama dengan cara melihat Habibie, kelompok penyerang ini tidak tahan melihat gaya dan cara Prabowo. Terlebih karena Prabowo itu seorang mantan tentara. Sehingga, pidatonya diolok-olok sebagai pidato seorang tiran yang akan membelenggu Indonesia dan menghilangkan kebebasan.

Menurut Fahri, gaya Prabowo seperti itu memang sudah ia kenal sejak ia mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Prabowo, kata Fahri, adalah tentara yang berlatar keluarga intelektual. Lahir sebagai anak orang yang sejak awal memikirkan bangsa dan negara. Sejak kuliah pun ia sudah menjadi perhatian aktivis mahasiswa.

“Jangan kita bandingkan Prabowo dengan para jenderal di sekitar Soeharto sebab ia berbeda. Orang mungkin tidak percaya bahwa orang ini merdeka sejak awal. Sebagai jenderal tentu harus merdeka. Dan ia membaca situasi secara mendalam. Ia punya masukan yang berbeda,” jelasnya.

Prabowo bersama BJ Habibie
Prabowo bersama BJ Habibie

Kemudian, tutur Fahri, Prabowo bukanlah seorang penjilat dan hal itu merupakan ‘dosa’ Prabowo lantaran kelakuannya yang terlampau merdeka. Sehingga, Prabowo mengambil semua resiko dari perbedaan yang ada, justru ketika Orde Baru berakhir.

“Saya melihat dari dekat bagaimana ia diadu domba dengan BJ Habibie, Presiden ketika itu,” tuturnya.

Fahri juga menuturkan, bahwa antara Prabowo dan Habibie, keduanya adalah orang yang terlalu rasional dan membaca tabiat para elite yang suka ‘menjilat’.

Hal inilah yang kemudian ditakutkan kelompok para penyerang. Jika Prabowo memimpin Indonesia, maka ia menilai orang pintar dan orang berprestasi akan mendapatkan tempat. Tetapi, elit yang hanya menjilat dan basa basi akan dapat posisi yang sulit. Lobi-lobi gelap tidak akan dapat porsi karena Prabowo tidak mudah diyakinkan kalau tidak benar.

Adapun dengan ditunjuknya Sandiaga untuk mendampingi Prabowo di Pilpres 2019, membuat para penyerang Prabowo lebih frustasi berat. Hal ini karena Sandiaga bukan merupakan tokoh agama yang dapat diserang menggunakan isu agama.

“Biasanya mereka (para penyerang) menyerang pakai agama, keduanya bukan ustaz atau kiai. Tapi keduanya tidak bisa diadu dengan masyarakat. Terutama umat Islam,” jelasnya.

Fahri melanjutkan, tadinya para penyerang berharap Prabowo akan memilih seseorang yang bisa mereka tuduh radikal dan fundamentalis Islam supaya lengkap untung ‘diserang’. Jadilah sebuah paket “kaum radikal yang akan mendirikan negara Islam yang mengancam masa depan NKRI”. Begitu rencana tuduhannya.

Jalan Demokrasi

Kini, para penyerang masih saja ingin menggambarkan bahwa kalau Prabowo berkuasa, seolah konstitusi kita akan berubah, seolah nanti yang memimpin negara ini hanya satu orang saja. Seolah negara akan kembali dalam zaman purbakala. “Mereka (para penyerang) menjual ketakutan,” ujar Fahri.

Prabowo sudah mengambil jalan demokrasi dengan mendirikan partai politik Gerindra
Prabowo sudah mengambil jalan demokrasi dengan mendirikan partai politik Gerindra

Fahri mengabarkan kepada para penyerang bahwa Prabowo sudah mengambil jalan demokrasi dengan mendirikan partai politik Gerindra. Karena sejak awal Prabowo sadar partai politik adalah masa depan negeri ini, sehingga di partai Gerindra Prabowo berjuang sampai akhirnya partai yang didirikan itu menjadi ketiga terbesar, yang dalam survei sekarang menuju nomor 2 atau 1. Dan hal itu tidaklah mudah.

“Menghembuskan keraguan seolah Prabowo akan menarik sejarah ke belakang hanya oleh orang yang sedang menariknya ke belakang. Intelektual seperti beliau sanggup memahami ide-ide rumit dalam demokrasi. Pemimpin bodoh memang kesulitan,” ungkapnya.

“Hal itulah, yang sekarang secara kontradiktif dipamerkan. Di satu sisi, para penyerang Prabowo menyerang keislaman Prabowo, tapi di sisi lain mereka marah dengan kedekatan kelompok Islam dengan Prabowo,” lanjut Fahri.

Sejak orde baru tidak ada yang berubah dari Prabowo. Namun satu pertanyaan yang sering ditanya Prabowo kepadanya adalah, “Apa ada yang beda yang saya perjuangkan sejak kamu mahasiswa Fahri?” Memang tidak ada. Sebab Prabowo ingin fair saja.

Prabowo melihat sejak orde baru kenapa ada kelompok yang mau menjauhkan Presiden Soeharto dari kelompok Islam? Kemudian saat Soeharto memilih Habibie sebagai wakil, dimulailah pergolakan. Itulah menurutnya, sisi sejarah yang hanya sedikit orang yang tahu.

“Itulah posisi Prabowo sejak awal. Dia tidak lahir dari keluarga santri tetapi anda tidak harus menjadi ustaz atau kiai untuk berlaku adil kepada orang Islam di negeri ini. Mungkin itu yang membuat dia pukul meja kalau ada yang mempersoalkan keislamannya,” jelasnya.

Meski Prabowo bukan seorang muslim santri, tetapi jangan tanya posisi politiknya sejak dulu hingga sekarang. Ia tidak mempunyai jarak psikologis untuk bertemu dengan kelompok Islam manapun, yang keras atau yang lunak. Ia juga tidak mempunyai beban untuk hadir di alumni 212 dan lainnya.

Menurut Fahri, karena hal itulah, tipikal pemimpin seperti Prabowo yang diperlukan Indonesia. Prabowo hanya mempunyai masalah dengan pengkhianat. Tetapi Prabowo tidak anti perbedaan pendapat.

“Saya sering memotong pembicaraan Prabowo dan berdebat keras. Kalau kita benar dia mengakui. Dia berterimakasih,” ungkapnya.

Sementara, jika ada orang mempertanyakan gaya Prabowo, Fahri pun mempermasalahkan. Padahal, Indonesia lahir dengan perdebatan keras. Bahkan, Presiden Indonesia pertama Soekarno merupakan orang yang keras kepala.

“Inilah sekilas pribadi dan gaya Prabowo yang sekarang kembali menjadi Capres 2019 melawan orang yang sama yang telah kita beri waktu lima tahun lamanya. Silahkan menentukan pilihan. Kalau menyerang pakailah ilmu yang lebih dalam. Selamat mencoba,” kata Fahri mengakhiri tulisannya.

Demikianlah sepenggal catatan akhir tahun Fahri Hamzah tentang sosok Prabowo Subianto. Semoga dapat menginspirasi kita semua.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here