Ironis, Presiden Tak Percaya Ada Guru Bergaji Rp300 Ribu

0
30
Ironis, Presiden Tak Percaya Ada Guru Bergaji Rp300 Ribu

Banyak suka duka dialami seorang guru pendidik demi mencerdaskan anak-anak bangsa. Presiden Joko Widodo melihat kenyataan bahwa seorang guru swasta yang tergabung dalam Persatuan Guru Seluruh Indonesia (PGSI) mendapat gaji sekitar Rp300 ribu hingga Rp500 ribu per bulan.

Hal tersebut diketahui Jokowi setelah mendapat informasi dari pengurus PGSI yang hadir dalam Silaturahmi PGSI di Istana Negara, Jakarta, Jumat (11/1).

“Tadi saya dengar dari pak ketua bahwa masih ada yang gajinya Rp300, Rp400, Rp500 ribu. Di dalam hati saya tidak percaya, tetapi kalau yang ngomong pak ketua ya saya harus percaya bahwa memang masih ada,” kata Jokowi.

Namun, saat aksi para guru honorer melakukan unjuk rasa sampai menginap di jalanan seberang Istana harus berakhir sia-sia. Karena Presiden Jokowi cuek dan enggan menanggapi aksi demonstrasi tersebut. Seandainya saat itu Presiden tidak kabur, maka tidak akan kaget jika ternyata masih ada gaji guru sebulan Rp300 ribu.

Ironis, Presiden Tak Percaya Ada Guru Bergaji Rp300 Ribu
Ironis, Presiden Tak Percaya Ada Guru Bergaji Rp300 Ribu

Kemudian, atas aksi tersebut pihak istana juga tidak memberikan solusi yang dapat memenuhi tuntutan para guru.

Pada waktu itu, Ketua Forum Honorer K2 Indonesia (FHK2I) Titi Purwaningsih mengatakan, aksi unjuk rasa itu sudah dilakukan di seberang Istana sejak Selasa (30/10/2018). Tetapi karena tak ada tanggapan Jokowi atau pihak Istana, akhirnya massa pun bermalam di sana dengan beralaskan aspal dan beratapkan langit.

“Kami rela tidur di depan Istana, bayar sewa bus jadi lebih mahal hanya karena ingin mendapat jawaban dari Jokowi,” kata Titi, Kamis (1/11/2018).

Pada Rabu pagi, setelah bermalam di seberang Istana, aksi kembali dilanjutkan. Akhirnya perwakilan massa diterima oleh perwakilan Deputi IV Kantor Staf Kepresidenan (KSP) pada Rabu sore.

Ironis, Presiden Tak Percaya Ada Guru Bergaji Rp300 Ribu
Ironis, Presiden Tak Percaya Ada Guru Bergaji Rp300 Ribu

Tetapi, menurut Titi, pihak KSP tidak menjanjikan apapun terkait nasib para guru honorer. Permintaan agar para guru honorer dapat bertemu langsung dengan Presiden Jokowi atau menteri terkait juga ditolak oleh pihak KSP.

“Kami menolak untuk melanjutkan mediasi dengan mereka karena percuma, tidak ada solusi. Mereka pun tidak tau bagaimana mempertemukan kami dengan Presiden,” ujar Titi.

Itulah cermin pendidikan di Indonesia, dimana sang penguasa justru kabur saat ribuan guru honorer ingin mengadukan nasibnya. Dimana ribuan tidak dihargai sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.