Hadiri Deklarasi APTSI, Chusnul Mar’iyah: Pemimpin Jangan Hanya Membaca Komik Doraemon

0
69
Hadiri Deklarasi APTSI, Chusnul Mar'iyah: Pemimpin Jangan Hanya Membaca Komik Doraemon

Chusnul Mar’iyah, mantan komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengatakan seorang pemimpin harus banyak membaca buku untuk mewujudkan tujuan Indonesia sesuai dengan amanat konstitusi. Menurut Chusnul, pemimpin jangan hanya membaca komik ‘Doraemon’.

Hal tersebut dikatakan Chusnul saat menghadiri acara deklarasi dukungan alumni perguruan tinggi seluruh Indonesia (APTSI) di Padepokan Pencak Silat, TMII, Jakarta Timur, Sabtu (26/1/2019).

“Karena itu, kalau kita menginginkan ada pergantian pemerintahan di 2019, kita perlu kembali ke visi kebangsaan kita. Melindungi segenap rakyat Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Apakah sudah sekarang ini? Kedaulatan negara ini diserahkan dengan sukarela tanpa rasa malu oleh rezim ke asing,” ujar Chusnul di Padepokan Pencak Silat, TMII, Jakarta Timur, Sabtu (26/1/2019).

“Apakah leaders mampu melakukan itu kalau bacaannya ‘Doraemon’? Kita membutuhkan pemimpin yang bisa membaca,” tambahnya.

Hadiri Deklarasi APTSI, Chusnul Mar'iyah: Pemimpin Jangan Hanya Membaca Komik Doraemon
Hadiri Deklarasi APTSI, Chusnul Mar’iyah: Pemimpin Jangan Hanya Membaca Komik Doraemon

Kemudian, Chusnul mengungkapkan beberapa ketimpangan ekonomi yang ada di Indonesia. Menurut dia, Indonesia saat ini mengalami oligarki ekonomi dan oligarki politik.

“Satu persen penduduk Republik Indonesia yang mungkin nanti Bang Noorsy (Ichsanuddin Noorsy) bisa jelaskan lebih lanjut. Menguasai 45,9 persen kekayaan, 72 persen tanah di republik ini dikuasai oleh 1 persen penduduk. Empat orang terkaya di republik ini kekayaannya dengan 100 juta rakyat miskin yang sebagian besarnya adalah perempuan,” ungkap Chusnul.

Dia pun mengajak masyarakat untuk menyukseskan Pemilu 2019 agar berlangsung jujur dan adil. Chusnul meminta masyarakat mengawasi partai politik dan penyelenggara pemilu. “Pertama, yang harus diawasi parpol dan peserta pemilu,” katanya.

Lebih lanjut, mantan komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) ini juga meminta masyarakat mengawasi calon petahana. Karena, menurutnya, petahana mempunyai aparat yang berpotensi disalahgunakan.

“Yang kedua siapa? Petahana. Kenapa petahana diawasi? Karena dia menguasai aparatus negara, menguasai APBN, menguasai APBD. Maka harus diawasi. Salah satu contohnya. Tolong kalau nanti sudah pulang ke daerah masing-masing. Diawasi itu dana desa, ada 74 ribuan kepala desa, lurah yang menerima dana desa dan itu bisa saja menjadi cara dan metode untuk menyandera para kepala desa. Mau 2 periode atau mau dipenjara?” jelas Chusnul.

Turut hadir dalam acara tersebut, para tokoh, politisi, habaib hingga ekonom diantaranya Adhyaksa Dault, Rachmawati Soekarnoputri, Titiek Soeharto, ekonom Ichsanuddin Noorsy juga politikus senior Amien Rais, hingga KH Sobri Lubis.