Kawal Perhitungan Suara KPU, BPN Prabowo Bentuk Relawan Saksi Online

0
79
Kawal Perhitungan Suara KPU, BPN Prabowo Bentuk Relawan Saksi Online (rakyatdigital.com)

Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi akan membentuk Relawan Saksi Online (RSO) yang bertugas mengawal perhitungan suara Pilpres 2019 oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Hal tersebut disampaikan Ketua Tim Cyber Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Agus Maksum.

Agus menyebut, Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi sudah mengantongi sejumlah data terkait kecurangan yang terjadi pada saat pemungutan suara maupun kesalahan data entri yang dilakukan KPU. Menurutnya, kecurangan juga terjadi sebelum pemilu dilaksanakan.

Dikarenakan, Tim Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi menemukan sejumlah TPS dengan surat suara tercoblos. Sebab itu, nantinya RSO ini bertugas mengecek validitas data dari C1 di website KPU dengan data yang didapatkan relawan dari setiap TPS.

“Kita bentuk 813.350 saksi online. Masing-masing amati web KPU. Amati apa yang terjadi. Apa C1 sama dengan C1 yang kita punya?” ujar Agus di Seknas BPN Prabowo-Sandi, Jakarta Pusat, Senin (22/4).

Ketua Tim Cyber Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Agus Maksum (rakyatdigital.com)
Ketua Tim Cyber Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Agus Maksum

Dijelaskan Agus, setiap hari relawan akan mengecek untuk mengetahui data apa saja yang berubah di website KPU. Menurutnya, jika relawan tidak tepat dalam pengecekan tersebut maka hasil real count nantinya akan sama dengan hasil hitung cepat atau quick count dari sejumlah lembaga survei yang ia nilai melakukan kebohongan publik.

“Apabila kita berhasil awasi dan mencegah perubahan ini, maka hasilnya akan sama dengan klaim BPN, sama dengan hitungan BPN Pak Prabowo menang 60% lebih,” jelasnya.

Kemudian lebih lanjut, Agus juga menyoroti sistem IT KPU yang dinilai mudah diretas. Menurut Agus, peretas bisa jadi bukanlah hacker tetapi penyelundup.

Sebelumnya, Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi menyebut telah menemukan sejumlah kecurangan dan kesalahan dalam proses penyelenggaraan Pemilu 2019 seperti 17,5 juta pemilih dalam DPT diduga invalid.

Kemudian hingga Sabtu (20/4), Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi mencatat kecurangan yang terjadi selama pemilu adalah sebanyak 1.261 kasus dalam proses pemungutan hingga penghitungan suara.