Gempa Susulan NTT 4.256 Kali, Terbesar M 6,2
BMKG mencatat 4.256 gempa susulan di NTT hingga 21 Agustus 2026, dengan magnitudo terbesar M 6,2 dan 118 guncangan dirasakan masyarakat.
Gempa susulan NTT masih terus terjadi setelah gempa utama bermagnitudo 7,7 mengguncang kawasan Flores. Hingga Jumat, 21 Agustus 2026 pukul 05.00 WIB, BMKG mencatat sebanyak 4.256 aktivitas gempa susulan.
Dari ribuan kejadian tersebut, magnitudo terbesar tercatat M 6,2. Sementara itu, gempa terkecil berada pada magnitudo M 1,1.
BMKG juga mencatat 31 gempa susulan memiliki kekuatan di atas magnitudo 5. Sebanyak 118 kejadian dirasakan langsung oleh masyarakat.
Angka tersebut menunjukkan aktivitas seismik di wilayah Flores masih sangat aktif beberapa hari setelah gempa utama.
Karena itu, masyarakat diminta tetap waspada. Warga juga perlu menghindari bangunan yang mengalami kerusakan struktur.
Gempa Susulan NTT Sudah Terjadi 4.256 Kali
Jumlah gempa susulan NTT bertambah cukup cepat dalam beberapa hari terakhir.
Pada 17 Agustus 2026, BMKG mencatat 1.624 gempa susulan. Jumlah tersebut kemudian meningkat menjadi 2.119 kejadian pada 18 Agustus.
Sehari kemudian, jumlahnya mencapai 2.768 gempa. Pada 21 Agustus pukul 05.00 WIB, angka tersebut telah meningkat menjadi 4.256 kejadian.
Data tersebut memperlihatkan bagaimana proses pelepasan energi masih berlangsung di sekitar sumber gempa.
Meski sebagian besar guncangan berukuran kecil, beberapa gempa memiliki magnitudo cukup besar.
BMKG mencatat 31 kejadian memiliki magnitudo lebih dari M 5 hingga pembaruan terbaru.
Sementara itu, 118 gempa telah dirasakan warga.
Gempa M 6,2 Menjadi Susulan Terbesar
Magnitudo terbesar dalam rangkaian gempa susulan tercatat mencapai M 6,2.
Salah satu gempa M 6,2 terjadi pada 15 Agustus 2026 pukul 05.13 WIB. Lokasinya berada sekitar 58 kilometer timur laut Manggarai Barat.
BMKG mencatat gempa tersebut memiliki kedalaman sekitar 10 kilometer dan tidak berpotensi tsunami.
Gempa M 6,2 lainnya tercatat beberapa menit kemudian.
Peristiwa tersebut terjadi pukul 05.28 WIB dengan pusat gempa sekitar 42 kilometer barat laut Ende, NTT.
Kedalamannya juga sekitar 10 kilometer dan dinyatakan tidak berpotensi tsunami.
Rangkaian gempa berkekuatan besar setelah gempa utama membuat kewaspadaan tetap diperlukan.
Terlebih, bangunan yang telah mengalami kerusakan dapat menjadi lebih rentan ketika menerima guncangan berikutnya.
Gempa Utama M 7,7 Berpusat Dekat Nagekeo
Rangkaian gempa susulan NTT bermula dari gempa utama pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
BMKG memperbarui parameter gempa utama menjadi magnitudo 7,7.
Episenternya berada di laut pada koordinat 8,41 LS dan 121,39 BT. Lokasinya sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo.
Gempa tergolong dangkal dengan kedalaman sekitar 15 kilometer.
Menurut analisis BMKG, gempa dipicu aktivitas Flores Back-Arc Thrust dengan mekanisme sesar naik atau thrust fault.
Karakter gempa yang relatif dangkal menyebabkan guncangan kuat terasa di sejumlah wilayah.
Di Wolowae dan Kota Bajawa, intensitas guncangan mencapai VI MMI.
Sementara itu, Kota Ende, Borong, dan Ruteng mengalami guncangan sekitar V MMI.
Apa Itu Flores Back-Arc Thrust?
Flores Back-Arc Thrust merupakan zona sesar naik yang membentang di bagian belakang busur kepulauan Flores.
Aktivitas tektonik pada zona tersebut dapat menghasilkan gempa kuat.
BMKG menyebut wilayah busur belakang Flores memiliki potensi gempa maksimum sekitar M 7,8 hingga M 7,9.
Catatan sejarah juga menunjukkan kawasan tersebut pernah mengalami gempa besar.
Pada 1992, gempa berkekuatan sekitar M 7,5 terjadi di kawasan Flores dan memicu tsunami yang menimbulkan dampak besar.
Karena karakter tektoniknya, aktivitas gempa di wilayah tersebut terus mendapat perhatian khusus.
Pemantauan tidak hanya dilakukan terhadap gempa susulan, tetapi juga terhadap respons tanah dan kondisi bangunan.
Gempa Utama Sempat Memicu Tsunami
Gempa M 7,7 pada 15 Agustus juga sempat memicu peringatan dini tsunami.
BMKG mengirim peringatan pertama sekitar dua menit setelah gempa terjadi.
Beberapa wilayah ditempatkan pada status Siaga dan Waspada.
Peringatan dini tersebut kemudian diakhiri pada pukul 07.30 WIB setelah kondisi dinilai tidak lagi membahayakan masyarakat pesisir.
Hasil observasi berikutnya menunjukkan tsunami terdeteksi di 16 lokasi yang tersebar di empat provinsi.
Wilayah tersebut berada di NTT, NTB, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara.
Tinggi tsunami terbesar tercatat di Pota, Manggarai Timur, sekitar 1,605 meter.
Sementara itu, pengamatan terendah tercatat di Bakalang, Alor, sekitar 0,14 meter.
Kondisi muka laut kemudian kembali stabil sehingga peringatan tsunami dihentikan.
Ribuan Gempa Susulan Diperkirakan Masih Berlanjut
BMKG sebelumnya memperkirakan rangkaian gempa susulan dapat berlangsung selama beberapa minggu.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto menyebut data sementara menunjukkan aktivitas susulan dapat berlangsung sekitar tiga hingga empat minggu.
Namun, perkiraan tersebut bukan berarti gempa akan berhenti tepat pada periode itu.
Intensitas serta jumlah gempa biasanya berubah mengikuti proses penyesuaian batuan di sekitar sumber gempa utama.
Karena itu, masyarakat diminta tidak menjadikan perkiraan tersebut sebagai batas waktu pasti.
Informasi terbaru tetap perlu dipantau melalui BMKG.
Jumlah Gempa Susulan Naik Cepat dalam Beberapa Hari
Perkembangan jumlah gempa memberikan gambaran menarik mengenai aktivitas pascagempa Flores.
Pada beberapa jam pertama setelah gempa utama, BMKG baru mendeteksi 37 aktivitas susulan.
Dua hari kemudian, jumlahnya telah mencapai 1.624 kejadian.
Pada 18 Agustus, angkanya meningkat menjadi 2.119.
Kemudian pada 19 Agustus, BMKG mencatat 2.768 gempa.
Pembaruan pada 21 Agustus menunjukkan totalnya telah mencapai 4.256 kejadian.
Lonjakan jumlah tersebut tidak otomatis berarti gempa utama berikutnya akan terjadi.
Gempa susulan merupakan bagian dari proses penyesuaian kerak bumi setelah pelepasan energi besar.
Namun, guncangan tetap berbahaya bagi bangunan yang sebelumnya telah mengalami kerusakan.
Gempa Susulan NTT Berdampak pada Rasa Aman Warga
Ribuan gempa susulan NTT membuat sebagian masyarakat memilih bertahan di tempat pengungsian.
Bukan hanya kerusakan rumah yang menjadi pertimbangan.
Guncangan yang terus berulang juga membuat warga khawatir kembali ke dalam bangunan.
Data yang dilaporkan RRI pada 20 Agustus menunjukkan jumlah pengungsi telah mencapai 92.735 jiwa.
Angka tersebut meningkat lebih dari 33 ribu jiwa dibandingkan pendataan sebelumnya.
Penambahan pengungsi terbesar tercatat antara lain di Nagekeo, Manggarai, dan Manggarai Barat.
Situasi tersebut menunjukkan dampak gempa tidak berhenti ketika guncangan utama selesai.
Faktor keamanan bangunan menjadi persoalan penting selama periode gempa susulan.
Lebih dari 36 Ribu Rumah Mengalami Kerusakan
Pendataan kerusakan juga terus berkembang.
BNPB memperbarui jumlah rumah terdampak menjadi 36.163 unit hingga 20 Agustus 2026.
Jumlah tersebut bertambah 7.187 unit dibandingkan data sebelumnya.
BNPB menjelaskan peningkatan angka terjadi karena proses pendataan lapangan semakin akurat.
Kerusakan dalam jumlah besar membuat pemeriksaan kondisi struktur menjadi sangat penting.
Bangunan yang terlihat masih berdiri belum tentu aman untuk langsung ditempati kembali.
Retakan pada dinding, kolom, sambungan, serta struktur utama perlu diperhatikan.
Terlebih, gempa susulan masih terjadi dengan magnitudo yang bervariasi.
Sekolah dan Fasilitas Pendidikan Juga Terdampak
Dampak gempa turut dirasakan sektor pendidikan.
Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang disampaikan pada 20 Agustus mencatat 1.378 satuan pendidikan terkena dampak.
Sebanyak 502 sekolah dilaporkan mengalami kerusakan berat di tujuh kabupaten.
Dampak tersebut berkaitan dengan sekitar 177 ribu murid serta lebih dari 21 ribu pengajar dan tenaga kependidikan.
Kondisi ini membuat pemulihan pendidikan menjadi bagian penting dari penanganan pascabencana.
Bangunan sekolah perlu diperiksa sebelum kegiatan belajar kembali dilakukan secara normal.
Alternatif ruang belajar sementara juga dapat dibutuhkan di daerah dengan kerusakan berat.
BNPB Terus Kirim Bantuan Logistik ke NTT
Selain melakukan pendataan, pemerintah terus menyalurkan bantuan ke wilayah terdampak.
BNPB sebelumnya mengirim puluhan ribu paket bantuan melalui jalur udara.
Pada tahap awal, pemerintah menyiapkan sekitar 50 ribu paket dengan berat keseluruhan sekitar 275 ton.
Distribusi kemudian terus berlanjut.
BNPB mencatat sekitar 167 ton logistik telah dikirim hingga 19 Agustus 2026.
Pada 20 Agustus, tambahan 42 ton bantuan donasi dan 60 ton dari Dana Siap Pakai berhasil dikirim.
Total pengiriman pada hari tersebut mencapai sekitar 102 ton.
Bantuan meliputi berbagai kebutuhan dasar bagi masyarakat terdampak.
Distribusinya dilakukan secara bertahap menyesuaikan akses menuju wilayah bencana.
BMKG Lakukan Survei Langsung di Daerah Terdampak
BMKG juga menerjunkan tim gabungan ke wilayah terdampak.
Tim melakukan survei makroseismik untuk memetakan tingkat guncangan berdasarkan dampak di lapangan.
Selain itu, BMKG melakukan pengukuran mikrotremor dan metode MASW.
Pengukuran tersebut digunakan untuk mempelajari karakteristik tanah serta respons suatu wilayah terhadap guncangan.
BMKG juga melakukan monitoring gempa susulan dan verifikasi dampak tsunami.
Data tersebut penting untuk proses pemulihan jangka panjang.
Hasil survei dapat digunakan sebagai dasar pemetaan mikrozonasi serta perencanaan rekonstruksi yang lebih aman.
Dengan demikian, proses pascabencana tidak hanya berfokus pada perbaikan kerusakan.
Aspek mitigasi juga perlu diperkuat agar risiko dari gempa berikutnya dapat ditekan.
Warga Diminta Hindari Bangunan yang Retak
BMKG terus mengingatkan warga untuk tidak mudah kembali memasuki bangunan yang mengalami kerusakan.
Retakan pada bangunan dapat mengurangi kemampuan struktur dalam menahan guncangan berikutnya.
Karena itu, kondisi rumah perlu diperiksa sebelum ditempati kembali.
Masyarakat juga diminta tetap tenang dan tidak mempercayai informasi yang sumbernya tidak jelas.
Informasi mengenai gempa sebaiknya dipantau melalui kanal resmi BMKG.
Langkah tersebut penting karena informasi palsu sering muncul ketika aktivitas gempa masih tinggi.
Jangan Menganggap Semua Gempa Susulan Berbahaya Sama Besarnya
Ribuan gempa yang tercatat tidak berarti seluruhnya menimbulkan guncangan kuat.
Dari 4.256 gempa susulan yang terdeteksi hingga 21 Agustus, hanya 118 yang dilaporkan dirasakan masyarakat.
Sebanyak 31 kejadian memiliki magnitudo di atas M 5.
Sebagian besar lainnya memiliki kekuatan lebih kecil.
Namun, angka tersebut tetap menunjukkan aktivitas tektonik yang tinggi.
Bagi warga di dekat pusat gempa, guncangan kecil yang berulang juga dapat menimbulkan kekhawatiran.
Karena itu, kesiapsiagaan perlu dilakukan tanpa menimbulkan kepanikan.
Mengapa Gempa Susulan Terus Terjadi?
Gempa besar mengubah distribusi tekanan pada batuan di sekitar sumber gempa.
Setelah pelepasan energi utama, bagian kerak bumi di sekitarnya masih menyesuaikan diri.
Proses tersebut dapat menghasilkan rangkaian gempa susulan.
Secara umum, frekuensi gempa susulan akan berkurang seiring waktu.
Namun, pola setiap gempa berbeda.
Ada rangkaian yang mereda relatif cepat. Ada pula yang berlangsung selama beberapa minggu.
Dalam kasus Flores, BMKG memperkirakan aktivitas susulan masih dapat berlangsung sekitar tiga sampai empat minggu berdasarkan data sementara.
Karena itu, perkembangan tetap perlu dipantau secara berkala.
Kewaspadaan Gempa Susulan NTT Tetap Diperlukan
Jumlah gempa susulan NTT yang mencapai 4.256 kejadian menunjukkan proses pascagempa Flores masih berlangsung.
Magnitudo susulan terbesar mencapai M 6,2. Sementara itu, gempa terkecil yang tercatat berada pada M 1,1.
BMKG juga telah mendeteksi 31 gempa berkekuatan di atas M 5 dan 118 kejadian yang dirasakan masyarakat.
Di sisi lain, kerusakan puluhan ribu rumah membuat risiko dari gempa susulan tidak dapat diabaikan.
Bangunan yang telah rusak memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap guncangan berikutnya.
Karena itu, masyarakat perlu mengikuti arahan petugas dan memeriksa keamanan bangunan sebelum kembali masuk.
Pemantauan resmi BMKG juga menjadi sumber utama untuk mengetahui perkembangan aktivitas kegempaan.
Dengan langkah tersebut, masyarakat dapat tetap waspada tanpa terjebak informasi yang menimbulkan kepanikan.
Baca Juga : Lansia Penjual Mi Singapura Didorong Jatuh Usai Elus Anak
