harga emas turun di Blora, Pembeli Mendadak Membludak
Suasana toko emas di Pasar Sidomakmur Blora saat harga emas turun dan pembeli meningkat tajam
Harga Turun, Pembeli Emas di Blora Seketika Melonjak: Ini yang Terjadi di Pasar Sidomakmur
BLORA — Pergerakan harga emas wawaslot yang belakangan naik-turun kembali memicu reaksi cepat dari masyarakat. Saat harga berada di level tinggi, banyak warga memilih menahan diri, bahkan sebagian lebih memilih menjual. Namun begitu harga emas mulai turun, situasinya berubah drastis: pembeli mendadak ramai dan toko-toko emas kembali dipadati.
Fenomena ini terlihat jelas di salah satu toko emas yang berada di Pasar wawaslot Sidomakmur, Blora. Sejak harga mengalami penurunan, masyarakat datang berbondong-bondong untuk membeli, terutama emas perhiasan yang dianggap lebih mudah disimpan sekaligus bisa dipakai.
Pembeli Menunggu Momen: “Kemarin Mahal, Nunggu Turun”
Salah satu pembeli wawaslot bernama Rina, warga Desa Purworejo, Kecamatan Blora, mengaku sempat terkejut melihat harga emas yang terus melonjak pada periode sebelumnya.
Ia bercerita, awalnya sudah berniat membeli, tetapi karena harga dianggap terlalu tinggi, rencana itu dibatalkan. Menurutnya, membeli emas di harga puncak terasa “eman-eman” (sayang) karena selisihnya cukup terasa di kantong.
Begitu mendengar harga mulai turun, ia langsung memutuskan membeli. Menariknya, uang yang dipakai untuk membeli emas berasal dari hasil panen cabai. Bagi Rina, emas bukan sekadar aksesori, tetapi simpanan yang lebih “aman” untuk jangka panjang.
“Emas wawaslot buat simpenan,” kurang lebih begitu alasan yang sering muncul di kalangan pembeli, terutama perempuan yang memang cenderung menjadikan perhiasan emas sebagai bentuk tabungan sekaligus kepemilikan aset.
Penjual: Harga Fluktuatif, Tapi Saat Turun Pembeli Meledak
Fuah, salah satu penjual emas di Pasar Sidomakmur, membenarkan bahwa harga emas memang sedang fluktuatif. Dalam beberapa waktu terakhir, naik-turun harga terjadi cukup cepat sehingga memengaruhi keputusan pembeli.
Ia menjelaskan, untuk emas Antam sempat menyentuh angka sangat tinggi, bahkan disebut pernah berada di atas Rp3 juta (mengikuti jenis/ukuran tertentu yang berlaku di pasaran saat itu). Sedangkan untuk emas perhiasan, khususnya “emas tua” 17 karat, sebelumnya wawaslot sempat berada di kisaran Rp2,3 jutaan dan kini turun ke sekitar Rp2,1 jutaan.
Perubahan ini langsung terasa di lapangan. Saat harga naik, pembeli lebih hati-hati dan aktivitas jual (menjual kembali emas) cenderung meningkat. Sebaliknya, ketika harga turun, pembeli yang datang justru melonjak.
Fuah menyebut, rata-rata pembeli per hari bisa mencapai sekitar 40 orang. Logikanya sederhana: saat harga wawaslot dianggap “lebih murah”, minat beli naik karena orang merasa mendapat momentum yang pas.
Kenapa Harga Turun Bisa Bikin Pembeli Ramai?
Ada beberapa alasan mengapa penurunan harga emas hampir selalu memicu lonjakan pembeli, khususnya di daerah seperti Blora:
-
Faktor psikologis “harga kesempatan”
Banyak orang menunggu momen turun karena takut membeli di puncak. Begitu turun, keputusan beli terasa lebih masuk akal. -
Emas dianggap tabungan cepat
Dibanding menyimpan uang tunai, sebagian warga memilih emas karena dianggap lebih tahan nilai dan mudah dicairkan saat butuh. -
Momentum penghasilan musiman
Seperti kasus Rina yang memakai hasil panen cabai, pendapatan dari sektor pertanian sering mendorong pembelian aset ketika ada uang “fresh”. -
Efek kebiasaan: beli saat turun, jual saat naik
Pola ini sudah umum di masyarakat. Saat harga naik, banyak yang melepas; saat turun, banyak yang mengoleksi lagi.
Tips Sederhana Jika Ingin Beli Emas Saat Harga Turun
Agar keputusan beli makin matang, beberapa hal ini bisa jadi pegangan:
-
Tentukan tujuan: untuk simpanan jangka panjang atau sekadar perhiasan.
-
Bandingkan jenis emas: Antam (batangan) biasanya beda karakter harga dengan emas perhiasan.
-
Perhatikan kadar & biaya: untuk perhiasan, ada ongkos pembuatan yang ikut memengaruhi nilai jual kembali.
-
Beli bertahap: kalau ragu timing, beli sedikit-sedikit bisa mengurangi risiko beli di harga yang kurang pas.
Penurunan harga emas terbukti menjadi pemicu utama ramainya pembeli di Blora, khususnya di Pasar Sidomakmur. Dari yang semula menahan diri karena harga tinggi, masyarakat kini kembali agresif membeli karena merasa mendapat momentum lebih “murah”. Bagi banyak warga, emas bukan cuma perhiasan, tetapi strategi simpanan—apalagi ketika ada pemasukan tambahan seperti hasil panen.
Jika tren harga masih fluktuatif, potensi lonjakan pembeli bisa kembali terjadi setiap kali harga turun di level yang dianggap menarik.
