Kunjungan Turis Asing ke Jepang Anjlok, Pertama dalam 4 Tahun
Penurunan kunjungan turis asing ke Jepang terjadi pertama kali dalam empat tahun terakhir
Kunjungan Turis Asing ke Jepang Anjlok, Pertama Kali dalam 4 Tahun
Data terbaru menunjukkan bahwa kunjungan turis asing ke Jepang mengalami penurunan untuk pertama kalinya dalam empat tahun terakhir. Pada Januari 2026, jumlah wisatawan internasional tercatat sekitar 3,59 juta orang, turun 4,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan ini cukup signifikan, mengingat sektor pariwisata Jepang sebelumnya mencatat pertumbuhan stabil bahkan sempat menembus rekor kunjungan sepanjang 2025.
Penurunan Drastis Turis China
Faktor utama yang memicu turunnya kunjungan rayaplay turis asing ke Jepang adalah anjloknya wisatawan asal China. Data menunjukkan jumlah pelancong dari China merosot lebih dari 60% dibandingkan Januari 2025.
Penurunan ini terjadi di tengah memburuknya hubungan diplomatik antara Jepang dan China. Pemerintah China sempat mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warganya, yang berdampak pada meningkatnya pembatalan tiket dan paket tur ke Jepang.
China selama ini merupakan salah satu pasar terbesar bagi industri pariwisata Jepang, sehingga penurunan dari negara tersebut langsung memengaruhi angka total kunjungan.
Negara Lain Justru Meningkat
Meski pasar China melemah, beberapa negara rayaplay lain justru mencatat kenaikan jumlah wisatawan. Turis dari Korea Selatan naik sekitar 22%, sementara kunjungan dari Taiwan dan Amerika Serikat juga menunjukkan tren positif.
Hal ini menunjukkan adanya pergeseran komposisi pasar wisata Jepang. Ketergantungan terhadap satu negara menjadi tantangan tersendiri bagi stabilitas sektor pariwisata.
Dampak terhadap Industri Pariwisata
Penurunan kunjungan turis asing ke Jepang menjadi sinyal penting bagi pelaku industri perjalanan dan perhotelan. Jepang sebelumnya menikmati momentum pemulihan rayaplay pascapandemi, dengan total wisatawan asing sepanjang 2025 mencapai lebih dari 40 juta orang.
Namun awal 2026 menunjukkan bahwa faktor geopolitik dapat berdampak langsung pada pergerakan wisatawan.
Meski demikian, kenaikan dari negara lain memberi harapan bahwa pasar dapat tetap stabil jika strategi promosi dan diversifikasi wisata diperkuat.
Tantangan dan Strategi ke Depan
Pemerintah Jepang dan pelaku industri rayaplay pariwisata kemungkinan akan fokus pada perluasan pasar baru untuk mengurangi ketergantungan terhadap satu negara.
Promosi destinasi alternatif, pengembangan infrastruktur, serta kemudahan visa dapat menjadi langkah strategis untuk menarik wisatawan dari kawasan Asia Tenggara, Eropa, maupun Amerika Utara.
Diversifikasi ini penting agar fluktuasi geopolitik tidak terlalu berdampak pada keseluruhan sektor.
Penurunan kunjungan turis asing ke Jepang pada Januari 2026 menjadi momen rayaplay evaluasi bagi industri pariwisata negara tersebut. Meski anjlok akibat berkurangnya wisatawan China, peningkatan dari negara lain menunjukkan bahwa potensi pemulihan tetap terbuka.
Ke depan, strategi diversifikasi pasar dan penguatan promosi internasional menjadi kunci agar pariwisata Jepang kembali tumbuh stabil.
