February 14, 2026

Rakyat Digital

Berita Tentang Rakyat dari rakyat untuk rakyat

Kampung Cina Bogor, Kisah Kampung Cina Tersembunyi di Bogor

Suasana Kampung Cina Bogor di Tajurhalang yang menyimpan sejarah Tionghoa peranakan

Kampung Cina Bogor menjadi simbol akulturasi budaya Tionghoa dan masyarakat lokal di Kabupaten Bogor

Kisah Kampung Cina Tersembunyi di Bogor, Jejak Tionghoa Peranakan yang Tetap Harmonis

Di tengah pesatnya pembangunan akaislot kawasan penyangga ibu kota, tersimpan sebuah permukiman bersejarah yang dikenal sebagai Kampung Cina Bogor. Lokasinya berada di wilayah Tajurhalang, Kabupaten Bogor, tak jauh dari pusat pemerintahan Cibinong. Meski hanya berjarak sekitar 10 kilometer dari pusat kota, keberadaannya tidak ditandai papan nama besar atau gapura mencolok.

Dari luar, kawasan ini terlihat seperti perkampungan biasa yang dikelilingi perumahan modern. Namun bagi warga sekitar, nama Kampung Cina sudah melekat kuat sebagai penanda sejarah panjang komunitas Tionghoa peranakan yang telah menetap turun-temurun.

Aroma Dupa dan Jejak Tradisi Lama

Saat memasuki kampung, hal pertama yang terasa bukanlah arsitektur khas Tiongkok, melainkan aroma dupa akaislot tipis yang sesekali tercium di sekitar tempat ibadah umat Konghucu. Ciri ini menjadi pengingat bahwa identitas budaya masih dijaga, meski tidak selalu tampak secara visual.

Uniknya, stereotip fisik etnis Tionghoa nyaris tak terlihat. Bahasa sehari-hari yang digunakan warga adalah campuran Betawi dan Sunda. Proses akulturasi yang berlangsung selama beberapa generasi membuat identitas mereka menyatu dengan budaya lokal tanpa kehilangan akar sejarahnya.

Lima Generasi Menetap di Kampung Cina Bogor

Salah satu warga senior, Gaw Pung Lie—akrab disapa Koh Pungut—mengisahkan bahwa keluarganya telah tinggal di Kampung Cina Bogor selama lima generasi. Leluhurnya disebut sebagai salah satu pendatang awal yang membuka permukiman di kawasan tersebut.

Cerita serupa datang dari Tie Ong, warga berusia 80 tahun yang merupakan generasi ketiga kelahiran kampung itu. Ia mengenang masa ketika wilayah tersebut masih berupa hutan sebelum berkembang menjadi lingkungan permukiman padat seperti sekarang.

Warga menyebut akaislot diri mereka sebagai “Cina kampung”, istilah yang menggambarkan keturunan Tionghoa yang telah sepenuhnya berbaur dan tidak lagi menggunakan bahasa Mandarin dalam kehidupan sehari-hari.

Harmoni Sosial dan Toleransi Antaragama

Salah satu kekuatan utama Kampung Cina Bogor adalah harmoni sosial yang terjaga. Banyak keluarga yang mengalami kawin campur, sehingga anak-anak mereka menganut beragam agama seperti Konghucu, Islam, dan Kristen.

Meski berbeda keyakinan, hubungan antarwarga berjalan damai. Prinsip akaislot yang dipegang adalah agama merupakan pilihan pribadi, sementara kebersamaan adalah komitmen bersama yang harus dijaga.

Perayaan Imlek kini dirayakan secara terbuka dan melibatkan seluruh warga, tidak hanya mereka yang beragama Konghucu. Tradisi saling berkunjung saat hari besar menjadi momentum mempererat solidaritas sosial.

Sekitar 500 Kepala Keluarga dan Aktivitas Ekonomi Mandiri

Saat ini, Kampung Cina Bogor dihuni sekitar 500 kepala keluarga keturunan Tionghoa yang menetap secara turun-temurun. Meski mayoritas beragama Konghucu, kampung ini terbuka bagi pendatang dari berbagai daerah seperti Medan, Ambon, hingga Kupang.

Secara ekonomi, warga menggantungkan hidup pada usaha kecil dan perdagangan rumahan. Beberapa membuka lapak akaislot daging, sayuran, makanan siap saji, atau usaha keluarga lainnya. Aktivitas ini menjadi bagian dari tradisi perdagangan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Menariknya, meski dikelilingi kawasan perumahan modern, kehidupan kampung tetap berjalan dinamis dan mempertahankan karakter komunitasnya.

Potensi Wisata Budaya yang Belum Banyak Terekspos

Dengan sejarah panjang dan kisah akulturasi yang kuat, Kampung akaislot Cina Bogor sebenarnya memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata budaya. Namun hingga kini, kawasan tersebut belum dipromosikan secara luas sebagai objek wisata resmi.

Bagi pencinta sejarah dan budaya, kampung ini menawarkan pengalaman berbeda—menyaksikan bagaimana identitas etnis dapat bertahan tanpa harus menonjol secara fisik, melainkan hidup dalam nilai, tradisi, dan kebersamaan.

Kampung Cina Bogor menjadi bukti nyata bahwa harmoni dan akulturasi budaya dapat berjalan alami tanpa kehilangan identitas. Di balik permukiman sederhana yang tersembunyi, tersimpan kisah lima generasi Tionaghoa peranakan yang hidup berdampingan dengan masyarakat lokal.

Keberadaannya bukan sekadar catatan sejarah, melainkan contoh nyata toleransi sosial yang masih relevan di tengah dinamika modernisasi.

About The Author

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.