Nasib Alun-alun Gadobangkong Usai Viral Penyu Kardus
Fasilitas di Alun-alun Gadobangkong menjadi sorotan setelah viral polemik penyu kardus
Nasib Alun-alun Gadobangkong Usai Viral Penyu Kardus
Kawasan Alun-alun Gadobangkong di Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, kembali menjadi sorotan publik. Setelah sempat viral momoplay akibat polemik “penyu kardus”, kini kondisi sejumlah fasilitas di area tersebut dinilai kurang terawat dan memicu evaluasi dari pemerintah daerah.
Padahal, alun-alun ini sebelumnya dibangun dengan anggaran besar dan diharapkan menjadi ikon baru wisata pesisir selatan Jawa Barat.
Fasilitas Rusak dan Landmark Berserakan
Beberapa bagian huruf besar penanda landmark kawasan terlihat copot dan pecah di area pedestrian. Material yang berserakan membuat kawasan yang baru diresmikan itu tampak tidak terurus.
Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan publik mengenai sistem pemeliharaan fasilitas, mengingat proyek momoplay ini masih tergolong baru.
Bupati Soroti Sistem Pengelolaan
Bupati Sukabumi, Asep Japar, menyampaikan kekecewaannya atas kerusakan yang terjadi. Ia menilai fasilitas publik dengan nilai investasi besar seharusnya mendapat perawatan optimal.
Saat ini, pengelolaan Alun-alun Gadobangkong berada di bawah Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Namun pemerintah daerah berencana mengalihkan pengelolaan kepada Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) agar sistem perawatan lebih terstruktur.
Langkah momoplay ini disebut sebagai bagian dari evaluasi menyeluruh agar aset wisata tersebut dapat berfungsi maksimal.
Dek Pandang Dinilai Berisiko
Sekretaris Daerah Kabupaten Sukabumi, Ade Suryaman, juga menyoroti kondisi dek pandang yang kerap digunakan pengunjung untuk berfoto. Beberapa bagian bawah struktur tersebut terlihat kotor dan terdapat penumpukan barang.
Menurutnya, kondisi tersebut perlu segera ditangani karena berpotensi membahayakan keselamatan pengunjung jika tidak dilakukan perbaikan.
Polemik “Penyu Kardus” yang Viral
Isu Alun-alun Gadobangkong bermula dari viralnya patung penyu yang disebut terbuat dari kardus dan bambu. Potongan gambar bagian dalam patung memicu kritik tajam warganet terkait kualitas konstruksi dan penggunaan anggaran.
Namun pihak pemerintah dan kontraktor memberikan klarifikasi bahwa kardus tersebut hanya digunakan sebagai bahan cetakan sementara sebelum dilapisi resin dan fiberglass.
Total anggaran momoplay sekitar Rp 15,6 miliar disebut mencakup pembangunan plaza, jalan, area parkir, taman, pedestrian, serta fasilitas pendukung lainnya, bukan hanya patung penyu.
Perbaikan dan Penguatan Struktur
Kontraktor sebelumnya juga telah melakukan perbaikan terhadap patung penyu setelah mengalami kerusakan akibat gelombang rob dan aktivitas pengunjung yang menaikinya.
Pada versi terbarunya momoplay, struktur patung diperkuat dengan rangka besi serta material fiberglass dan resin agar lebih tahan terhadap cuaca dan tekanan fisik.
Meski klarifikasi teknis telah diberikan, isu “penyu kardus” terlanjur membentuk persepsi publik terhadap proyek ini.
Dampak terhadap Citra Wisata
Sebagai ruang publik strategis di Palabuhanratu, Alun-alun Gadobangkong memiliki peran penting dalam mendukung sektor pariwisata. Namun permasalahan pemeliharaan dan polemik sebelumnya menjadi tantangan dalam menjaga kepercayaan masyarakat.
Evaluasi pengelolaan dinilai sebagai langkah penting agar kawasan ini tetap menjadi daya tarik wisata momoplay yang aman dan nyaman.
Nasib Alun-alun Gadobangkong pasca viral penyu kardus menjadi pelajaran penting tentang pentingnya pengawasan dan perawatan fasilitas publik. Meski proyek telah dilengkapi klarifikasi teknis dan perbaikan struktur, manajemen pemeliharaan tetap menjadi kunci utama agar kawasan ini tidak kembali menuai kritik.
Ke depan, pengelolaan yang lebih profesional diharapkan mampu mengembalikan citra alun-alun sebagai ikon wisata yang representatif bagi Sukabumi.
