ISPA di Kalbar Tembus 165 Ribu Saat Karhutla
Kasus ISPA di Kalbar mencapai 165.727 laporan hingga 22 Agustus 2026 ketika aktivitas karhutla dan hotspot meningkat.
Kasus ISPA di Kalbar menjadi perhatian setelah Dinas Kesehatan Kalimantan Barat mencatat 165.727 kasus sepanjang 1 Januari hingga 22 Agustus 2026.
Peningkatan laporan terjadi ketika sejumlah wilayah Kalimantan Barat menghadapi kebakaran hutan dan lahan atau karhutla. Aktivitas hotspot juga meningkat pada pertengahan Agustus.
Data tersebut dihimpun melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons atau SKDR.
Sistem ini digunakan fasilitas kesehatan untuk memantau perubahan tren penyakit dari minggu ke minggu.
Kepala Dinas Kesehatan Kalbar dr Erna Yulianti menjelaskan tren kenaikan mulai terlihat sejak minggu ke-21 atau sekitar akhir Mei 2026.
Kenaikan berlanjut hingga minggu ke-32 pada pertengahan Agustus.
Secara proporsi, jumlah laporan tercatat sekitar 29 kasus per 1.000 penduduk.
Namun, Dinkes mengingatkan bahwa angka tersebut tidak berarti seluruh kasus secara langsung disebabkan oleh asap karhutla.
ISPA dapat dipengaruhi berbagai faktor. Meski demikian, paparan asap dan partikel hasil pembakaran tetap menjadi risiko yang perlu diwaspadai.
ISPA di Kalbar Naik Sejak Akhir Mei
Data mingguan Dinkes memperlihatkan peningkatan mulai terjadi sekitar akhir Mei.
Pergerakan kasus kemudian terus dipantau melalui SKDR.
Perhatian semakin besar ketika memasuki minggu ke-32.
Pada periode tersebut, peningkatan kunjungan masyarakat ke puskesmas terjadi bersamaan dengan bertambahnya aktivitas hotspot di Kalimantan Barat.
Kondisi tersebut membuat pemerintah daerah memperketat pengawasan terhadap penyakit saluran pernapasan.
SKDR tidak hanya menghitung jumlah laporan.
Sistem tersebut juga menghasilkan alert ketika ditemukan perubahan kasus yang perlu mendapat perhatian lebih lanjut.
Pada minggu ke-32, Kota Pontianak menghasilkan jumlah alert tertinggi dengan sembilan peringatan.
Kabupaten Ketapang berada di urutan berikutnya dengan enam alert.
Sementara Sintang dan beberapa wilayah lain dilaporkan menghasilkan sekitar lima alert.
Data itu kemudian disandingkan dengan informasi hotspot untuk membantu menentukan daerah yang membutuhkan pemantauan lebih ketat.
Mengapa Angka 165.727 Tidak Semuanya Bisa Disebut Akibat Karhutla?
Judul mengenai kenaikan ISPA dan karhutla memang mudah menimbulkan kesan bahwa seluruh 165.727 kasus berasal dari asap kebakaran.
Namun, Dinkes Kalbar secara khusus memberikan penjelasan mengenai hal tersebut.
ISPA merupakan kelompok gangguan saluran pernapasan yang memiliki berbagai faktor risiko dan penyebab.
Karena itu, peningkatan kasus tidak dapat langsung dikaitkan seluruhnya dengan satu penyebab.
Karhutla tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan karena asap pembakaran mengandung berbagai partikel yang dapat mengganggu sistem pernapasan.
Dinkes melihat adanya pola yang patut diawasi karena kenaikan laporan pada pertengahan Agustus terjadi ketika aktivitas hotspot juga meningkat.
Dengan kata lain, hubungan waktunya terlihat, tetapi penentuan penyebab setiap kasus tetap memerlukan pemeriksaan kesehatan.
Karhutla Kalbar Sudah Membakar Lebih dari 38 Ribu Hektare
Besarnya ancaman karhutla terlihat dari luas wilayah yang terbakar.
BPBD Kalimantan Barat mencatat kebakaran hutan dan lahan telah mencapai sekitar 38.310,86 hektare sejak Januari hingga 21 Agustus 2026.
Beberapa daerah memberikan kontribusi luas kebakaran yang cukup besar.
Kabupaten Ketapang tercatat sekitar 12.443 hektare.
Kubu Raya mencapai sekitar 8.614 hektare, sedangkan Mempawah sekitar 6.144 hektare.
Sambas juga mencatat lebih dari 2.300 hektare.
Sebagian daerah tersebut memiliki lahan gambut.
Karakteristik gambut membuat pemadaman lebih sulit karena bara dapat bertahan di bawah permukaan.
Api yang terlihat padam di permukaan bahkan dapat kembali muncul apabila bagian bawah lahan masih menyimpan panas.
Kondisi serupa ditemukan dalam operasi pemadaman di Sungai Raya, Kubu Raya.
Petugas harus melakukan pendinginan berulang karena lahan masih berpotensi menyimpan bara setelah api utama berkurang.
Sembilan Daerah Tetapkan Status Siaga
BPBD Kalbar juga menyebut sedikitnya sembilan kabupaten telah menetapkan status siaga terkait ancaman kebakaran dan asap.
Pemerintah daerah menjalankan beberapa langkah penanganan.
Patroli darat dilakukan dengan melibatkan TNI, Polri, Manggala Agni, BPBD, masyarakat, hingga perusahaan yang berada di sekitar wilayah rawan.
Operasi udara juga digunakan untuk menjangkau daerah yang sulit diakses dari darat.
BNPB menyediakan helikopter patroli dan water bombing.
Selain itu, operasi modifikasi cuaca telah digunakan sejak April 2026 ketika kondisi atmosfer memungkinkan pembentukan hujan.
Namun, operasi tersebut tidak bisa dilakukan setiap saat.
Penyemaian awan membutuhkan kondisi atmosfer dan potensi pertumbuhan awan yang memadai.
Kualitas Udara Pontianak Sempat Masuk Kategori Berbahaya
Situasi kesehatan menjadi semakin serius setelah kualitas udara Pontianak memburuk.
Pada Kamis, 27 Agustus 2026, Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menyatakan kualitas udara kota berada dalam kategori berbahaya bagi kesehatan.
Pemerintah kemudian meminta warga mengurangi aktivitas di luar ruangan.
Perguruan tinggi, perkantoran, dan sejumlah pihak juga diminta menunda kegiatan luar ruang yang tidak mendesak.
Car Free Day ditiadakan sementara.
Pembelajaran tatap muka di sejumlah sekolah juga dialihkan menjadi daring untuk mengurangi paparan asap terhadap pelajar.
Puskesmas dan rumah sakit diminta meningkatkan kesiapsiagaan.
Posko kesehatan bersama PMI turut menyediakan pemeriksaan dan dukungan kesehatan selama kabut asap berlangsung.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa dampak karhutla tidak berhenti pada kebakaran lahan.
Asap dapat memengaruhi aktivitas pendidikan, pekerjaan, transportasi, hingga pelayanan kesehatan.
PM2.5 Jadi Ancaman dalam Asap Karhutla
Salah satu komponen yang menjadi perhatian dalam asap kebakaran adalah PM2.5.
PM2.5 merupakan partikel dengan diameter sangat kecil, kurang dari 2,5 mikrometer.
Ukurannya memungkinkan partikel tersebut masuk jauh ke dalam sistem pernapasan.
Kementerian Kesehatan memperingatkan paparan asap karhutla dapat mengandung PM2.5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, serta sejumlah senyawa lain yang berpotensi mengganggu kesehatan.
Semakin tinggi konsentrasi dan semakin lama seseorang terpapar, semakin besar pula risiko gangguan pernapasan.
Karena itu, kualitas udara menjadi salah satu indikator penting selama musim karhutla.
Kelompok Rentan Perlu Perhatian Lebih
Dampak asap tidak sama bagi setiap orang.
Kementerian Kesehatan memberikan perhatian khusus kepada anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit bawaan atau gangguan pernapasan.
Anak-anak termasuk kelompok yang perlu dilindungi karena sistem pernapasan mereka masih berkembang.
Lansia juga dapat memiliki daya tahan tubuh dan fungsi paru yang lebih rendah dibandingkan kelompok usia muda.
Masyarakat dengan riwayat asma atau penyakit paru memiliki risiko mengalami keluhan lebih berat ketika kualitas udara memburuk.
Hal tersebut menjadi salah satu alasan sekolah di Pontianak sempat menerapkan pembelajaran daring.
Tujuannya adalah mengurangi waktu anak berada di luar ruangan saat kabut asap sedang pekat.
Cara Mengurangi Paparan Asap Karhutla
Seiring meningkatnya ISPA di Kalbar, pemerintah mengeluarkan sejumlah imbauan kepada masyarakat.
Kementerian Kesehatan dan Dinkes meminta masyarakat memantau kondisi kualitas udara sebelum beraktivitas.
Ketika udara memburuk, kegiatan luar ruangan yang tidak penting sebaiknya dikurangi.
Penggunaan masker juga dianjurkan saat berada di daerah yang terdampak asap.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin secara khusus mengingatkan penggunaan masker ketika kualitas udara memburuk untuk mengurangi paparan partikel halus.
Masyarakat juga diminta menjaga kebutuhan cairan dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
Bila mengalami gangguan pernapasan yang memburuk, pemeriksaan ke fasilitas kesehatan menjadi langkah yang tepat.
Pontianak Bukan Satu-satunya Wilayah Terdampak
Peningkatan penyakit pernapasan akibat kondisi udara buruk juga ditemukan di wilayah Kalimantan lainnya.
Kotawaringin Barat di Kalimantan Tengah, misalnya, mencatat 515 kasus ISPA dalam satu minggu pada minggu ke-32.
Dinkes setempat melihat tren kenaikan sejak minggu ke-28 hingga minggu ke-32.
Kalimantan Selatan juga mencatat kenaikan kasus pada periode yang hampir sama.
Data tersebut menunjukkan bahwa gangguan kualitas udara akibat kebakaran bukan hanya persoalan satu provinsi.
Musim kemarau yang kering dapat meningkatkan risiko kebakaran di banyak daerah sekaligus.
BMKG sebelumnya juga mencatat sebagian Kalimantan Barat telah memasuki musim kemarau dan sejumlah wilayah menghadapi peringatan kekeringan meteorologis.
El Nino Ikut Menambah Risiko Kekeringan
Kondisi atmosfer tahun 2026 juga menjadi bagian dari situasi yang dihadapi pemerintah.
Analisis BMKG pada dasarian pertama Agustus menunjukkan indikator ENSO berada pada kondisi El Nino sangat kuat.
Sebagian besar wilayah Indonesia saat itu juga telah memasuki musim kemarau.
Curah hujan rendah dan kondisi kering dapat membuat vegetasi serta lahan gambut menjadi lebih mudah terbakar.
Karena itu, pemerintah Kalbar meningkatkan kesiapsiagaan menjelang puncak musim kemarau.
Patroli, deteksi dini hotspot, pemadaman darat, hingga dukungan operasi udara terus dilakukan.
ISPA di Kalbar Jadi Sinyal Kesehatan yang Harus Dipantau
Jumlah ISPA di Kalbar yang telah mencapai 165.727 laporan menjadi indikator penting bagi pemerintah selama periode karhutla.
Angka tersebut berasal dari laporan sejak awal Januari.
Karena itu, tidak tepat menyimpulkan bahwa seluruh kasus disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan.
Namun, tren kenaikan pada pertengahan Agustus terjadi berbarengan dengan peningkatan hotspot dan memburuknya kualitas udara.
Kondisi tersebut cukup menjadi alasan untuk meningkatkan kewaspadaan.
Dinkes kini terus memantau laporan melalui SKDR dan membandingkannya dengan sebaran hotspot.
Daerah dengan alert tinggi akan menjadi perhatian lebih besar.
Di sisi lain, upaya pengendalian karhutla tetap menjadi bagian penting untuk mengurangi paparan asap terhadap masyarakat.
Dengan lebih dari 38 ribu hektare lahan telah terbakar dan kualitas udara Pontianak sempat masuk kategori berbahaya, penanganan tidak hanya membutuhkan pemadaman api.
Perlindungan kesehatan masyarakat juga harus berjalan bersamaan sampai kondisi udara kembali membaik.
Baca juga : Tersangka Pembunuhan di Palu Ditangkap Usai Sebulan Buron
